Sabtu, 14 Mei 2011

WOW ! Mahasiswa ITB Juarai Kompetisi Robot AS


Syawaludin Ramatullah, Samratul Fuadi, Aslih Damaetri dan Dody Suhendra merupakan empat mahasiswa ITB yang mengharumkan Indonesia dalam kompetisi robot internasional di Amerika Serikat pada 9-10 April 2011 lalu. Dua tahun mereka habiskan untuk untuk menciptakan robot pemadam kebakaran yang dinobatkan sebagai juara.

Syawaluddin menjelaskan riset robot ini dimulai sejak akhir 2008 dan menghabiskan dana riset hingga Rp. 60 juta, biaya membangun robot Zarqun (hitam) menghabiskan biaya Rp. 20 juta sedangkan Yaqun (merah) Rp. 40 juta. Yaqun memang lebih mahal karena kualitas perangkatnya lebih bagus,” ucap Syawaluddin, di Bandung, Kamis, 14 April 2011.
Kedua robot ini menggunakan prosesor Atmell sebagai microcontroller.

Untuk pergerakannya robot-robot ini menggunakan prinsip kelelawar, mereka memancarkan suara ultrasonik. Pantulan suara tersebut diolah oleh robot untuk mengukur jarak ruangan agar tidak menabrak.
Sedangkan untuk melacak sumber api, kedua robot tersebut dipasang sensor ultraviolet dan infrared (masing-masing sebanyak lima buah).

Engsel-engsel kaki kedua robot ini menggunakan motor servo yang diimpor dari Singapura. “Satu buah motor servo harganya mencapai Rp1,1 juta. Sedikitnya satu robot membutuhkan 22 motor servo untuk bergerak. Kami juga butuh cadangan. Untuk motor servonya saja sudah sekitar Rp. 22 juta.”, jelas Syawaluddin.

Kusprasapta Mutijarsa, pembimbing tim robot Indonesia menjelaskan, kedua robot tersebut harus diset ulang setibanya di Amerika. Perbedaan cuaca yang signifikan antara Indonesia dengan Hartford, Connecticut, Amerika Serikat membuat sensor-sensor tersebut harus dioprek.

“Sewaktu tiba di Amerika, sensor sempat macet karena perbedaan suhu. Perbedaan suhu sedikit saja berpengaruh terhadap sensor robot untuk mencari sumber api. Untuk itu selama dua hari waktu sebelum bertanding kami melakukan setting ulang terhadap sensor dan melakukan latihan di kamar hotel,” ungkap pria yang biasa disapa Sony ini.

Samratul Fuadi, mahasiswa lain dalam tim robot ITB mengaku, setibanya di Amerika Serikat mereka sempat minder melihat robot-robot yang menjadi pesaingnya dalam kontes tersebut. Fuadi bahkan melihat kontingen dari Portugal membuat robot unik yang menggunakan iPhone sebagai prosesor dan sensornya.

“Robotnya unik dan canggih karena menggunakan iPhone tapi ternyata saat bertanding gagal menjalankan misinya. Kelebihan robot kami lebih cepat berjalan dan bergerak presisi, mungkin karena risetnya selama dua tahun,” ucap Fuadi.
Zarqun, merupakan robot generasi ketiga sedangkan Yaqun merupakan robot generasi keempat yang khusus dibuat untuk mewakili Indonesia di kontes tersebut.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar